5 Tim Bukan Favorit yang Jadi Juara Liga Inggris

Sebagai liga paling kompetitif di Eropa, Premier League atau Liga Inggris kerap menghadirkan kejutan. Setiap musim sulit memprediksi tim yang bakal keluar jadi juara.
Mungkin, banyak kalangan lebih tahu tim-tim langganan juara. Contoh saja Manchester United, Manchester City, Chelsea, hingga si kuda hitam, Leicester City yang mendominasi belakangan.
Namun, nyatanya ada klub yang mungkin tak Anda duga tapi juara Liga Inggris. Klub-klub tersebut belakangan malah harus bergelut melawan degradasi dan acap naik-turun kasta beberapa tahun terakhir.
Padahal, mereka punya sejarah yang panjang di sepak bola Britania Raya. Siapa saja mereka? Yuk kita cek berikut 5 Tim Bukan Favorit yang Jadi Juara Liga Inggris

1 . Sunderland

Sunderland selalu memiliki basis penggemar yang sangat besar di Inggris. Tapi jika ada yang mempertimbangkan sejarah Sunderland, sangat sulit untuk membayangkan bahwa mereka cuma jadi pejuang di papan tengah ke bawah. Padahal, sejarah mereka menuliskan cerita yang sangat berbeda. Didirikan pada tahun 1879 dan bergabung dengan Football League pada tahun 1890-91, Sunderland sukses memenangkan liga musim 1891-92.
Sunderland sebenarnya juga jadi tim pertama yang mencetak 100 gol di liga yang diraih pada tahun 1892/93 saat mempertahankan gelar. Ini jelas penting karena kala itu sepak bola masih tergolong baru di dunia. Mereka memenangkan lebih banyak gelar liga di tahun 1895-96 dan 1901-02. Meskipun tidak mampu memenangkan gelar lain selama sepuluh tahun, Sunderland dianggap sebagai tim papan atas di Inggris.
Liga kemudian ditangguhkan setelah Perang Dunia I pecah. Mereka berusaha keras untuk kembali dominan, tapi hanya bisa memenangkan liga sekali lagi pada 1935-36. 82 tahun berselang, nasib Sunderland justru berbalik 180 derajat. Mereka malah tak tampak seperti tim besar tiap kali berlaga di Liga Inggris.

2. Newcastle United

Sepuluh tahun terakhir, Newcastle Unites mengalami musim yang sangat buruk. Mereka terdegradasi dua kali dari Liga Primer pada periode tersebut.
Namun nasib Newcastle selalu tidak begitu membosankan. Meskipun tak dianggap sebagai pengganjal jalan tim besar, mereka pernah melahirkan pemain legenda seperti Alan Shearer, Les Ferdinand, David Ginola dan Dave Watson.
Namun demikian, kilas balik ke abad 20, Newcastle United adalah pusat kekuatan sepak bola Inggris. Mereka pernah mencatatkan tiga gelar liga dalam lima tahun, yakni 1904-05, 1906-07, 1908-09.
Perang Dunia Pertama sempat mengganggu kemajuan mereka. Akan tetapi, Newcastle sukses bangkit dan akhirnya berhasil juara liga musim 1926/27.
Sayangnya, itu adalah gelar terakhir mereka pada kompetisi strata atas Inggris. Mereka sebenarnya telah juara empat kali di divisi dua, tapi tak ada yang peduli soal itu.
Secara keseluruhan, klub asal Tyneside ini memiliki enam Piala FA, yang terakhir berada di tahun 1955. Trofi terakhir mereka adalah Piala Intertoto pada tahun 2006, yang merupakan Piala Eropa tingkat ketiga yang biasanya diadakan pada pra-musim.

3. West Bromwich Albion


Aksi kiper West Bromwich, Boaz Myhill menghalau bola dari sundulan pemain Leicester City, Wilfred Ndidi pada laga Premier League di King Power Stadium, Leicester, (16/10/2017). Leicester bermain imbang 1-1. (AFP/Lindsey Parnaby)

West Bromwich Albion belakangan dianggap sebagai tim yang bermain sangat membosankan bersama Tony Pulis. Entah bagaimana arah permainan mereka ke depan setelah Pulis dipecat beberapa waktu lalu.
Padahal faktaya, WBA adalah klub kedua dalam sejarah yang mencetak 100 gol dalam satu musim liga! Mereka melakukan ini pada 1919-20, dalam perjalanan menuju gelar liga pertama dan terakhir mereka hanya dalam sejarah. WBA awalnya dianggap sebagai tim yang punya daya serang mematikan.
Mereka hampir memenangkan liga dan Piala FA untuk pertama kalinya di Inggris pada 1953-54. Namun, akhirnya mereka kehilangan gelar liga setelah disalip Wolverhampton Wanderers.
Mereka masih memenangkan Piala FA pada 1958 untuk menambah tiga Piala FA yang dimenangkan sebelumnya. Kemenangan di Piala Liga pada 1966 adalah gelar terakhir mereka dan kesuksesannya kini sudah lama terlupakan

4. Burnley

Burnley pernah 30 pertandingan beruntun tak terkalahkan pada liga musim 1920-21 yang sekaligus memastikan gelar pertama dalam sepak bola Inggris. Rekor itu akhirnya berhasil dipecahkan Arsenal pada abad ke-20.
Tentu saja, itu merupakan rekor mengesankan bagi Burnley yang sempat bertahan lebih dari 80 tahun. Burnley memiliki beberapa hasil akhir yang konsisten pada periode antara 1910-1923.
Namun periode buruk datang. Setelah 40 tahun raih gelar, klub terdegradasi pada 1930 dan pada tahun 1947 baru bisa promosi. Kebijakan pembentukan tim berbasis pemain muda membuat Burnley memenangkan gelar liga kedua pada tahun 1959-60.
Manajer Harry Potts diberi banyak kebebasan untuk beroperasi dan ini adalah pertama kalinya dalam sejarah klub memberi kendali mutlak atas transfer pemain. Potts membawa mereka ke perempat final Piala Eropa pada tahun 1961-62 dan juara Piala Inter-Cities Fairs (Piala UEFA/Liga Eropa) pada tahun 1967.
Setelah itu, Burnley justru terpuruk di sepak bola Inggris. Burnley gagal memenangkan trofi sampai terdegradasi di tahun 1970an dan sama sekali tidak pernah menjadi klub yang sama sejak saat itu.

5. Huddersfield Town

Huddersfield Town AFC, tak banyak yang tahu soal klub ini. Sebab, mereka bahkan merupakan salah satu klub terkecil di Liga Primer dalam hal infrastruktur dan anggarannya.
Akan tetapi, dalam hal sejarah, Huddersfield sangat sukses jauh sebelum Arsenal memenangkan gelar liga pertama. Antara 1923-24 dan 1926-27 di bawah Herbert Chapman dan Cecil Potter, Huddersfield Town AFC memenangkan tiga gelar divisi pertama berturut-turut, plus Piala FA pada 1922.
Klub Yorkshire itu belum lagi memenangkan trofi sejak masa gemilang itu. Perang Dunia Kedua menghambat mereka dan ketika liga kembali, klub gagal menciptakan kembali kesuksesan dan akhirnya bolak-balik terdegradasi selama periode 1960an.
Mereka memenangkan divisi kedua pada tahun 1970 dan menghabiskan dua musim berikutnya di papan atas. Akan tetapi, semenjak itu, namanya tak lagi terdengar sampai akhirnya David Wagner memicu kebangkitan klub.
Huddersfield Town telah memulai musim ini secara positif. Andai bisa konsisten, bukan tak mungkin mereka akan jadi tim kuda hitam